
NDONESIA kini menjadi primadona baru bagi para investor global. Negeri yang kaya akan sumberdaya alam dan berpenduduk terbesar keempat di dunia, tentu menjadi magnet bagi para pemburu rente di seluruh dunia. Para investor akan segera berdatangan ke Jamrud Khatulistiwa ini.
Diyakini, Indonesia, paling lambat setahun ke depan sudah akan masuk investment grade. Sejumlah lembaga rating sudah memberikan ancang-ancang tentang hal ini. Karuan saja, optimisme negeri ini menjadi surga bagi investor makin nyata.
Namun, ada satu catatan penting yang memang pantas direnungkan oleh pengambil keputusan di negeri ini. Ya, Asian Development Bank (ADB) mengingatkan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan negera Asean lainnya tentang infrastruktur. Baik itu menyangkut infrastuktur transportasi, listrik, maupun irigasi. ADB pun berharap permasalahan ini dapat segera diatasi agar Indonesia makin "kinclong".
Kenapa Indonesia sudah masuk radar investor global? salah satunya adalah kestabilan pertumbuhan ekonomi dan makro ekonomi yang terjaga. Di samping juga aspek kestabilan politik, yang ditunjukkan makin mekarnya demokrasi. Meski masih banyak catatan kelam tentang perpolitikan nasional saat ini yang tidak jauh dari skandal korupsi.
Kembali ke aspek infrastruktur, kiranya hal ini memang harus segera dilakukan langkah terpadu untuk menyelesaikan. Jika kita lihat, soal transportasi, di Ibu Kota negara saja belum selesai. Banyak jalan berlubang dan tidak sebandingnya jumlah kendaraan dengan ruas jalan. Apalagi kalau kita tengok di luar Jakarta atau di luar Jawa.
Kelistrikan juga masih menjadi momok. Bagaimana investor akan menanamkan duitnya jika pabrik yang mereka bangun tidak ada jaminan pasokan listrik. Kalapun ada, byar pet. Yang ada bukan untung melainkan buntung, karena kapasitas produksi pabrik tidak bisa dioptimalkan. Di sinilah peran PLN dan juga pemerintah diperlukan. Jangan lagi ada byar pet di pusat-pusat industri.
Soal irigasi juga menjadi masalah. Investor yang akan menanamkan modalnya di sektor agroindustri praksis akan memerlukan sistem irigasi yang memadai. Cuma kenyataannya, masih banyak sistem irigasi yang tidak optimal. Ujung-ujungnya produksi di sektor ini pun belum seperti yang diharapkan. Syukur-syukur bisa swasembada pangan. Jika buntung, bukan kita ekspor agroindustri, tapi jutru impor. Menyedihkan tentunya, karena sejak nenek moyang kita, negeri ini selalu digambarkan sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi. Subur makmur.
Catatan ADB tentang infrastruktur di negeri ini kiranya bisa menjadi cambuk bagi pemerintah dan stakeholder, agar bangsa ini makin melaju menjadi negeri maju dan pusat perekonomian dunia. Saatnya matahari kembali bersinar dari ufuk timur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar