
Judul Buku: Ekonomi Nurani vs Ekonomi Naluri
Penulis: Hendrawan Supratikno
Editor: Masirom dan Jay AM
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun Terbit: Januari, 2011
Halaman: xxiv + 396
Penulis: Hendrawan Supratikno
Editor: Masirom dan Jay AM
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun Terbit: Januari, 2011
Halaman: xxiv + 396
Ketajaman analisis Prof Hendrawan Supratikno diimbangi dengan kemampuan menulisnya yang begitu lugas dan jelas. Hal ini secara jelas diakui oleh editor buku ini, yang menyebutkan bahwa Prof Hendrawan merupakan salah satu ilmuwan yang pandai menulis.
"Saat menghadapi tulisan Prof Hendrawan, seorang editor naskah akan berbahagia: sedikit sekali yang harus dirapikan." (halaman xxii)
Ketangkasan Prof Hendrawan dalam merangkai kata untuk menggambarkan buah pemikirannya akan mudah sekali untuk ditelisik dirangkaian tulisan yang dimuat di buku ini. Pembaca akan menemukan pemikiran-pemikiran yang lugas dan tegas. Tanpa mencoba terjebak pada salah satu ideologi atau madzab tertentu secara membabibuta, tulisan-tulisan dalam buku ini memberikan perspektif tersendiri tentang berbagai aliran di kancah ilmu ekonomi.
Tidak itu saja, penulis juga menghadirkan pandangan-pandangannya mengenai arah pembangunan ekonomi tanah air yang selama ini selalu di luar konteks untuk menyejahterakan warganya. Misalnya saja saat penulis mengkritisi pidato presiden di depan anggota DPR. Angka-angka yang begitu menakjubkan, seakan tidak ada makna jika tidak menyentuh perbaikan ekonomi rakyat. Angka kemiskinan yang turun, angka pertumbuhan ekonomi yang tertinggi sepanjang sejarah reformasi, angka utang luar negeri yang turun drastis, tidak ada manfaatnya jika di tataran real, kehidupan masyarakat masih tidak berubah.
Guru Besar UKSW Salatiga ini pun secara sadar memilih judul bukunya: Ekonomi Nurani vs Ekonomi Naluri. Menurutnya, judul itu menyiratkan dilema yang selalu kita hadapai, yaitu tarik menarik antara apa yang seharusnya (das sollen) dan apa yang sesungguhnya terjadi (das sein), antara desiderata dan realita.
Pada dataran normatif, kata Hendrawan, kita berbicara tentang hal-hal yang ideal, tidak cacat, dan bermain dalam imajinasi solusi yang abstrak. Kenyataan sering menunjukkan wajah yang sebaliknya, wajah yang sesunngguhnya ingin kita hindari. Terdapat jarak lebar antara semangat "membela yang benar" dengan fakta "membela yang bayar"; antara "jalan pantas" dan "jalan pintas", atau antara "transformasional" dan "transaksional." (halaman xxvii)
Bagi para pembaca, buku ini serasa enak untuk dibaca. Baik mereka yang saban hari berkutat dengan masalah ekonomi maupun orang awan. Karena bahasa yang digunakan begitu enak untuk diikuti.
Satu hal yang cukup mengganjal pada buku ini adalah, artikel-artikel yang dimuat adalah artikel yang berbasiskan pada artikel yang dimuat di surat kabar. Dengan sendirinya, buku ini masih belum begitu mengena untuk menelisik, pemikiran yang holistik dari sang penulis. Karena dengan artikel yang berbasiskan pada artikel media massa, maka tulisannya pun lebih untuk menyikapi fenomena yang "hot" pada saat itu saja.
Namun secara keseluruhan buku ini layak untuk dibaca dan bisa memberikan pemahaman kepada khalayak bahwa di negeri ini memang selalu ada pertentangan antara mereka yang menganut ekonomi nurani dengan mereka yang menganut ekonomi naluri yang mengejar keuntungan sesaat belaka.

