Jumat, 17 Juni 2011

Potret Ekonomi Das Sollen vs Das Sein


Judul Buku: Ekonomi Nurani vs Ekonomi Naluri
Penulis: Hendrawan Supratikno
Editor: Masirom dan Jay AM
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun Terbit: Januari, 2011
Halaman: xxiv + 396

Ketajaman analisis Prof Hendrawan Supratikno diimbangi dengan kemampuan menulisnya yang begitu lugas dan jelas. Hal ini secara jelas diakui oleh editor buku ini, yang menyebutkan bahwa Prof Hendrawan merupakan salah satu ilmuwan yang pandai menulis.

"Saat menghadapi tulisan Prof Hendrawan, seorang editor naskah akan berbahagia: sedikit sekali yang harus dirapikan." (halaman xxii)

Ketangkasan Prof Hendrawan dalam merangkai kata untuk menggambarkan buah pemikirannya akan mudah sekali untuk ditelisik dirangkaian tulisan yang dimuat di buku ini. Pembaca akan menemukan pemikiran-pemikiran yang lugas dan tegas. Tanpa mencoba terjebak pada salah satu ideologi atau madzab tertentu secara membabibuta, tulisan-tulisan dalam buku ini memberikan perspektif tersendiri tentang berbagai aliran di kancah ilmu ekonomi.

Tidak itu saja, penulis juga menghadirkan pandangan-pandangannya mengenai arah pembangunan ekonomi tanah air yang selama ini selalu di luar konteks untuk menyejahterakan warganya. Misalnya saja saat penulis mengkritisi pidato presiden di depan anggota DPR. Angka-angka yang begitu menakjubkan, seakan tidak ada makna jika tidak menyentuh perbaikan ekonomi rakyat. Angka kemiskinan yang turun, angka pertumbuhan ekonomi yang tertinggi sepanjang sejarah reformasi, angka utang luar negeri yang turun drastis, tidak ada manfaatnya jika di tataran real, kehidupan masyarakat masih tidak berubah.

Guru Besar UKSW Salatiga ini pun secara sadar memilih judul bukunya: Ekonomi Nurani vs Ekonomi Naluri. Menurutnya, judul itu menyiratkan dilema yang selalu kita hadapai, yaitu tarik menarik antara apa yang seharusnya (das sollen) dan apa yang sesungguhnya terjadi (das sein), antara desiderata dan realita.

Pada dataran normatif, kata Hendrawan, kita berbicara tentang hal-hal yang ideal, tidak cacat, dan bermain dalam imajinasi solusi yang abstrak. Kenyataan sering menunjukkan wajah yang sebaliknya, wajah yang sesunngguhnya ingin kita hindari. Terdapat jarak lebar antara semangat "membela yang benar" dengan fakta "membela yang bayar"; antara "jalan pantas" dan "jalan pintas", atau antara "transformasional" dan "transaksional." (halaman xxvii)

Bagi para pembaca, buku ini serasa enak untuk dibaca. Baik mereka yang saban hari berkutat dengan masalah ekonomi maupun orang awan. Karena bahasa yang digunakan begitu enak untuk diikuti.

Satu hal yang cukup mengganjal pada buku ini adalah, artikel-artikel yang dimuat adalah artikel yang berbasiskan pada artikel yang dimuat di surat kabar. Dengan sendirinya, buku ini masih belum begitu mengena untuk menelisik, pemikiran yang holistik dari sang penulis. Karena dengan artikel yang berbasiskan pada artikel media massa, maka tulisannya pun lebih untuk menyikapi fenomena yang "hot" pada saat itu saja.

Namun secara keseluruhan buku ini layak untuk dibaca dan bisa memberikan pemahaman kepada khalayak bahwa di negeri ini memang selalu ada pertentangan antara mereka yang menganut ekonomi nurani dengan mereka yang menganut ekonomi naluri yang mengejar keuntungan sesaat belaka.

Perbaikan Infrastruktur Demi Investasi Asing


NDONESIA kini menjadi primadona baru bagi para investor global. Negeri yang kaya akan sumberdaya alam dan berpenduduk terbesar keempat di dunia, tentu menjadi magnet bagi para pemburu rente di seluruh dunia. Para investor akan segera berdatangan ke Jamrud Khatulistiwa ini.

Diyakini, Indonesia, paling lambat setahun ke depan sudah akan masuk investment grade. Sejumlah lembaga rating sudah memberikan ancang-ancang tentang hal ini. Karuan saja, optimisme negeri ini menjadi surga bagi investor makin nyata.

Namun, ada satu catatan penting yang memang pantas direnungkan oleh pengambil keputusan di negeri ini. Ya, Asian Development Bank (ADB) mengingatkan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan negera Asean lainnya tentang infrastruktur. Baik itu menyangkut infrastuktur transportasi, listrik, maupun irigasi. ADB pun berharap permasalahan ini dapat segera diatasi agar Indonesia makin "kinclong".

Kenapa Indonesia sudah masuk radar investor global? salah satunya adalah kestabilan pertumbuhan ekonomi dan makro ekonomi yang terjaga. Di samping juga aspek kestabilan politik, yang ditunjukkan makin mekarnya demokrasi. Meski masih banyak catatan kelam tentang perpolitikan nasional saat ini yang tidak jauh dari skandal korupsi.

Kembali ke aspek infrastruktur, kiranya hal ini memang harus segera dilakukan langkah terpadu untuk menyelesaikan. Jika kita lihat, soal transportasi, di Ibu Kota negara saja belum selesai. Banyak jalan berlubang dan tidak sebandingnya jumlah kendaraan dengan ruas jalan. Apalagi kalau kita tengok di luar Jakarta atau di luar Jawa.

Kelistrikan juga masih menjadi momok. Bagaimana investor akan menanamkan duitnya jika pabrik yang mereka bangun tidak ada jaminan pasokan listrik. Kalapun ada, byar pet. Yang ada bukan untung melainkan buntung, karena kapasitas produksi pabrik tidak bisa dioptimalkan. Di sinilah peran PLN dan juga pemerintah diperlukan. Jangan lagi ada byar pet di pusat-pusat industri.

Soal irigasi juga menjadi masalah. Investor yang akan menanamkan modalnya di sektor agroindustri praksis akan memerlukan sistem irigasi yang memadai. Cuma kenyataannya, masih banyak sistem irigasi yang tidak optimal. Ujung-ujungnya produksi di sektor ini pun belum seperti yang diharapkan. Syukur-syukur bisa swasembada pangan. Jika buntung, bukan kita ekspor agroindustri, tapi jutru impor. Menyedihkan tentunya, karena sejak nenek moyang kita, negeri ini selalu digambarkan sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi. Subur makmur.

Catatan ADB tentang infrastruktur di negeri ini kiranya bisa menjadi cambuk bagi pemerintah dan stakeholder, agar bangsa ini makin melaju menjadi negeri maju dan pusat perekonomian dunia. Saatnya matahari kembali bersinar dari ufuk timur.